Kamis, 28 April 2016

Perusahaan Ini Bagi-Bagi Dividen Rp 7,2 Triliun

Dari ratusan ribu jumlah perusahaan di Indonesia, ada satu perusahaan skala raksasa yang dapat membagi-bagi dividen sebesar Rp 7,2 triliun. Wow fantastis bukan?

Rapat umum pemegang saham tahunan (RUSPT) PT Astra International Tbk (ASII) menyepakati pembagian dividen Astra Rp 7,2 triliun atau Rp 177 per saham untuk tahun buku 2015. Dari jumlah itu, sebanyak 50,9% atau Rp 3,6 triliun mengalir ke Jardine Cycle & Carriage Ltd, anak usaha Jardine Matheson Group Inggris, yang berbasis di Singapura.

Jardine merupakan pemegang saham mayoritas Astra dengan kepemilikan 50,9%. Perusahaan investasi ini membeli saham Astra International pada 1999.

Sebelumnya, Astra membagikan dividen interim sebesar Rp 64 per saham 21 Oktober 2015, sehingga sisanya sebesar Rp 113 per saham akan dibayarkan pada 27 Mei 2016 kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham 11 Mei 2016 pukul 16:00 WIB.

Selanjutnya, RUPST memberikan wewenang kepada direksi perseroan untuk melaksanakan pembagian dividen Astra tersebut dan untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan. Pembayaran dividen akan dilakukan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan pajak, Bursa Efek Indonesia, dan ketentuan pasar modal lainnya yang berlaku.

“Dividen akan kami berikan Rp 7,2 triliun‎, atau setara Rp 177 per saham,” kata Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto usai RUPST Astra International. Sisa dari laba bersih Rp7,29 triliun, Prijono‎ menyebutkan, akan ditahan perseroan.

Laba bersih Astra Group sebesar Rp14,46 triliun di 2015 mengalami penurunan sebanyak 25% dibandingkan pencapaian laba sebesar Rp19,19 triliun di 2014.

Pada kuartal I 2016, Astra International mencetak penurunan laba bersih 22% menjadi Rp 3,1 triliun, seiring turunnya pasokan laba dari otomotif, jasa keuangan, dan alat berat. Pendapatan menurun 7% menjadi Rp 41,8 triliun.

Di bisnis otomotif, Astra mengakui, restrukturisasi model distribusi dua tingkat menggerus laba bersih Toyota Sales Operations alias Auto2000. Ini dilakukan sejak tahun lalu, di mana PT Toyota Astra Motor (TAM), perusahaan yang dikendalikan Astra dan Toyota Motor Corporation (TMC), mengambil alih peran distribusi mobil ke seluruh diler Toyota dari tangan Auto2000. Laba bersih otomotif Astra turun 3% menjadi Rp 1,58 triliun, masih terbesar di antara seluruh bisnis Astra lainnya.

Di bisnis jasa keuangan, rugi bersih PT Bank Permata Tbk Rp 376 miliar menyeret profitabilitas. Hal ini dipicu peningkatan provisi akibat membengkaknya kredit macet dari 2,7% menjadi 3,5%. Adapun bisnis alat berat dan pertambangan astra dirusak oleh jebloknya harga komoditas.

“Grup Astra masih berhadapan dengan lemahnya permintaan otomotif dan harga komoditas, serta penurunan kualitas kredit korporasi di Bank Permata. Kondisi bisnis diperkirakan masih menantang,” ujar Prijono.(*)

Sumber: di sini

Kamis, 14 April 2016

Investasi di Perusahaan Online Hasilkan Return 15 Kali Lipat

Berkaca dari akuisisi raksasa terbaru, yakni Alibaba membeli mayoritas saham Lazada senilai US$ 1 miliar atau setara Rp 13 triliun, ternyata terdapat fakta menarik yang belum diungkap ke publik. Diketahui dari transaksi tersebut, salah satu pemegang saham Lazada yang kepemilikan sahamnya dijual ke Alibaba ternyata mendulang keuntungan (return) yang fantastis.

Adalah Rocket Internet yang menyebutkan penjualan sahamnya di Lazada menghasilkan return 15 kali lipat dibanding total investasinya di layanan marketplace yang didirikan tahun 2012 itu. Jadi dalam waktu kurang dari empat tahun, investasi Rocket Internet di Lazada telah menghasilkan return 15 kali lipat. Wow fantastis bukan.

Sekilas gambaran, Alibaba Group Holding Ltd, raksasa e-commerce asal China, mengakuisisi mayoritas saham Lazada Group SA senilai US$ 1 miliar atau setara Rp 13 triliun. Lazada merupakan salah satu platform marketplace terbesar di Asia Tenggara yang beroperasi di enam negara Asia Tenggara dengan taksiran valuasi secara total sekitar US$ 1,5 miliar.

Dalam keterangan tertulis, Alibaba menyebutkan akuisisi ini terdiri dari investasi baru senilai US$ 500 juta dan pembelian saham dari pemilik yang sudah ada, sebesar sisanya. Sebanyak 9 investor pemegang saham lama Lazada telah menjual sahamnya kepada Alibaba. Tersisa, Rocket Internet, Kinnevik, dan Tesco kini hanya menguasai masing-masing 8,8%, 3,6%, dan 8,3% saham pasca-akuisisi.

Miliarder pemilik Alibaba, Jack Ma, memang menargetkan setengah dari pendapatannya berasal dari Asia. Dengan akuisisi Lazada ini, otomatis pendapatannya dari penjualan baju dan elektronik di pasar Asia Tenggara akan naik.

“Apa yang dilakukan ini demi balance sheet, sehingga dilakukan investasi ini. Alibaba juga mencari sumber pendapatan baru,” kata Analis dari Morningstar Investment Service, Marie Sun.

Alibaba juga telah mendapatkan hak untuk mengambil alih sisa saham Lazada, yang belum diakuisisinya, 12 hingga 18 bulan setelah transaksi berlangsung.

Di Indonesia, Lazada merupakan salah satu perusahaan online dengan valuasi termahal. Lazada.co.id berada di posisi kesembilan dari 10 perusahaan online yang diriset duniaindustri.com. Lazada.co.id memiliki valuasi nilai pada 2016 sebesar US$ 1.788.326 (atau setara Rp 23,2 miliar), turun dibanding nilai valuasi pada 2015 sebesar US$ 3.782.512 (atau setara Rp 53,5 miliar dengan kurs Rp 14.170/US$). Secara global, Lazada.co.id berada di ranking 991 dunia pada 2016, anjlok dibanding peringkat pada 2015 yakni urutan 639 dunia. Lazada.co.id ditopang traffic 96,1% dari Indonesia. Skor SEO untuk website ini juga turun dari sebesar 74% pada 2015 menjadi hanya 62% pada 2016.

Top 10
Data dari webstatsdomain.org yang dikumpulkan duniaindustri.com menyebutkan, Detik.com menduduki urutan pertama di negeri ini dengan estimasi valuasi nilai US$ 40.136.296 (atau setara Rp 521,7 miliar dengan kurs Rp 13.000/US$). Nilai valuasi Detik.com naik dari tahun sebelumnya hanya US$ 19.4 juta (atau setara Rp 275 miliar dengan kurs Rp 14.170/US$ pada 2015).

Di peringkat kedua perusahaan online termahal, Kaskus.co.id dengan nilai valuasi US$ 19.403.852 (atau setara Rp 252.2 miliar dengan kurs Rp 13.000/US$) pada 2016, naik dibanding valuasi pada 2015 sebesar US$ 17.808.931 (setara Rp 252,3 miliar dengan kurs Rp 14.170/US$). Meski nilai valuasi dalam dolar Amerika Serikat naik, peringkat Kaskus.co.id di dunia sedikit turun menjadi ranking 314 dunia pada 2016 dibanding tahun sebelumnya yang menempati ranking 304 dunia. Sekitar 93,9% traffic kaskus.co.id berasal dari Indonesia, dengan skor SEO 87%.

Kejutan luarbiasa terjadi di posisi ketiga. Terjadi perubahan drastis, dari sebelumnya menduduki posisi 10 pada 2015, Tribunnews.com, portal berita milik Grup Kompas, berhasil menyodok langsung ke posisi ketiga perusahaan berbasis online termahal di Indonesia. Tribunnews.com memiliki nilai valuasi pada 2016 sebesar US$ 18.980.423 (atau setara Rp 246,7 miliar dengan kurs Rp 13.000/US$), meningkat sangat signifikan dibanding 2015 sebesar US$ 1.619.162 (atau setara Rp 22,9 miliar dengan kurs Rp 14.170/US$). Secara global, peringkat Tribunnews.com juga meroket menjadi posisi 215 dunia pada 2016, dari posisi 2015 di ranking 1.277 dunia, ditopang traffic 93,4% dari Indonesia dan skor SEO sebesar 65%. Selain itu, Tribunnews.com juga mengalahkan peringkat dunia Kaskus.co.id, meski secara nilai valuasi masih lebih rendah.

Urutan keempat diduduki portal berita dari Emtek Group, yakni Liputan6.com, dengan valuasi pada 2016 sebesar US$ 18.780.593 (atau setara Rp 244 miliar), naik signifikan dibanding 2015 yang hanya sebesar US$ 10.934.744 (atau setara Rp 154,9 miliar dengan kurs Rp 14.170/US$). Liputan6.com pada 2016 menduduki ranking 293 dunia, meningkat pesat dibanding tahun sebelumnya di urutan 450 dunia yang ditopang traffic 94,3% dari Indonesia. Skor SEO untuk Liputan6.com sebesar 79%. Liputan6.com menggeser peringkat Kompas.com yang sebelumnya menduduki peringkat keempat.

Kompas.com berada di posisi kelima dengan nilai valuasi 2016 sebesar US$ 14.505.115 (atau setara Rp 188,5 miliar dengan kurs Rp 13.000/US$), naik dibanding tahun sebelumnya sebesar US$ 13.643.062 (atau setara Rp 193,3 miliar dengan kurs Rp 14.170/US$). Kompas.com menduduki ranking 360 dunia pada tahun ini, meningkat dibanding peringkat 402 dunia pada 2015, dengan ditopang traffic 91,6% dari Indonesia. Skor SEO Kompas.com 75%.

Dominasi E-commerce
Di posisi keenam, situs e-commerce marketplace Bukalapak.com memiliki valuasi pada 2016 sebesar US$ 11.616.148 (atau setara dengan Rp 151 miliar dengan kurs Rp 13.000/US$), atau naik tajam dibanding valuasi pada 2015 sebesar US$ 7.443.979 (atau setara Rp 105,4 miliar dengan kurs Rp 14.170/US$). Bukalapak.com menduduki ranking 383 dunia pada 2016, meningkat dari posisi 472 dunia pada 2015, yang ditopang traffic 96,8% dari Indonesia. Skor SEO untuk marketplace ini tergolong standar, sebesar 65%.


Ketujuh, situs e-commerce marketplace Tokopedia.com memiliki valuasi nilai pada 2016 sebesar US$ 9.194.011 (atau setara dengan Rp 119,5 miliar dengan kurs Rp 13.000/US$), naik dari valuasi 2015 sebesar US$ 2.087.511 (atau setara Rp 29,5 miliar dengan kurs Rp 14.170/US$). Peringkat secara global Tokopedia.com juga naik tajam menjadi ranking 451 dunia pada 2016 dari ranking 713 dunia pada 2015. Tokopedia.com ditopang traffic 96,8% dari Indonesia. Skor SEO untuk marketplace ini sebesar 69%. Posisi Tokopedia.com menanjak ke urutan keenam di Indonesia menggeser Lazada.co.id dan Olx.co.id.

Kedelapan, e-commerce yang semula tenar dengan nama Tokobagus.com kemudian berubah menjadi Olx.co.id, dengan valuasi nilai pada 2016 sebesar US$ 2.116.520 (atau setara Rp 27,5 miliar), turun tipis dibanding 2015 dengan nilai valuasi US$ 2.167.954 (atau setara Rp 30,7 miliar dengan kurs Rp 14.170/US$). Secara global, peringkat Olx.co.id juga cenderung turun pada 2016 menjadi urutan 1.236 dunia, dibanding posisi pada 2015 di ranking 1.081 dunia. Traffic Olx.co.id berasal 94,9% dari Indonesia dengan skor SEO sebesar 76%.

Kesepuluh, portal berita besutan Grup Bakrie, Viva.co.id, memiliki valuasi nilai pada 2016 sebesar US$ 1.490.362 (atau setara Rp 19,37 miliar dengan kurs Rp 13.000/US$), lebih rendah dibanding nilai valuasi pada 2015 sebesar US$ 1.863.413 (atau setara Rp 26,4 miliar dengan kurs Rp 14.170/US$). Secara global, peringkat Viva.co.id juga melemah ke posisi 2.357 dunia pada 2016 dibanding posisi pada 2015 di ranking 1.194 dunia. Viva.co.id ditopang traffic 95,6% dari Indonesia dengan skor SEO sebesar 64%.(*)

Baca selengkapnya di sini